Sabtu pagi saya diundang seseorang untuk suatu acara ritual. Dia adalah seorang saudagar pedagang kebutuhan bahan pokok di pasar. Acaranya adalah hajat membaca sebuah amalan bacaan sebanyak 4444 kali. Tentunya bukannya tanpa maksud acara ini diadakan. Saya tidak terlalu banyak bertanya karena yang menyuruh saya adalah guru dan orang tua yang sudah saya percaya keilmuannya. Bahwa tidak akan mengadakan suatu amalan tanpa dasar dan maksud tertentu.

Sedikit bicara tentang amalan, hal tersebut saya yakini sebagai berikut, bahwa amalan yang dilakukan secara khusus, waktu, tempat atau jumlahnya, adalah seperti resep khusus untuk suatu penyakit khusus. Hampir sama dengan treatment khusus yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien dengan kebutuhan khusus. Sedangkan dokter untuk amalan khusus itu adalah para ulama / wali yang telah bekerja keras siang dan malam melatih diri hingga menemukan formula tersebut dengan petunjuk Alloh. Maka memang syariat-syariat khusus tersebut akan lebih afdol bila Anda mengamalkannya dengan adanya jalur pengijazaan, artinya menemukan garis turun temurunnya dari sang penemu sampai dengan pengamalnya. Diajarkan secara berhadap-hadapan dan intensif untuk menjamin tidak adanya deviasi cara atau niat yang terselubung supaya jangan ada malpraktik. Persis seperti ilmu kedokteran gitu.

Kembali ke pelaksanaan amalan tadi, berkumpullah sekitar 10 orang untuk bersama-sama membaca amalan tersebut. Tentunya bukan hal mudah membaca bersama sepanjang itu dengan konsentrasi penuh, khususnya bagi saya yang masih junior ini. :D. Mati-matian saya berusaha konsentrasi ditengah gaung suara-suara lain disekeliling saya. Awalnya susah sekali, bacaan saya sering terlewat dan nggelambyar entah kemana, meloncat-loncat tak teratur. Saya tutup telinga saya supaya hening, hanya bertahan 10 menitan. Saya keraskan suara saya, juga bertahan tidak lama karena tenggorokan jadi cepet kering.

Akhirnya saya temukan cara jitu itu.. hehe. Suara kecil, telinga gak perlu ditutup tapi mulut komat kamit sesuai bacaan. Usahakan komat-kamit dengan benar tanpa mengurangi satu huruf pun. Nah sepertinya bacaan jadi lancar dan konsen. Oooo makanya kalo liat orang merapal mantra itu mulutnya yang komat-kamit… mungkin adalah cara jitu untuk konsentrasi itu tadi, karena untuk mencapai frekwensi tinggi yang dibutuhkan memang pikiran yang penuh konsentrasi. Meski badan tergoncang-goncang, meski ditengah keramaian, meski tempat penuh godaan, harus tetap konsentrasi. Jadi teman, begitu salah satu tips dari mbah untuk membantu kalian berkonsentrasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website