Hari Kamis saya pulang dari Nusa Dua pukul 4.30 pagi. Suasana hujan deras sekali, berkali-kali mobil musti menerjang genangan air yang cukup tinggi di bypass Ngurahrai. Kali ini untuk pulang ke Jawa saya merencanakan lewat jalur lain yaitu lewat Singaraja. Ini juga pertama kali saya lewat situ. Berikut catatan perjalanannya :

  1. Pemandangan. Dari Nusadua ke Gilimanuk lewat Singaraja suasananya lebih asik! Pemandangan kiri kanannya soow amazing. Tercatat beberapa objek wisata yang bisa dihampiri sepanjang rute adalah : Danau Bedugul, Airterjun Gitgit, Kota Singaraja, Pantai Lovina, Kawasan Hutan Bali Barat. Tidak ada truk dan bus seperti jalur Tabanan. Hawanya pegunungan sueeejuuk!. Buat Anda yang ingin menikmati alternatif wisata di Bali, jalur ini amat sangat saya rekomendasikan, dari pada musti nunggu nyampe di Kuta dulu, ini Cuma 1 jam dari Gilimanuk sudah bisa berwisata pantai dan hutan di Banjar dan Lovina
  2. Jalan raya. Jalannya tetap mulus, meski lebih kecil. Mulai Mengwi sampai Bedugul jalurnya naik. Mulai agak ekstrem ketika dekat ke Bedugul, kira-kira seperti jalur di Tretes gitu. Naik dan berkelok. Perseneling maen di 2 terus. Tapi Cuma sebentar kemudian turun terus. Cuma maen rem sepanjang jalan. Itu dari Bedugul sampai Singaraja. Berkelok dan rindang. Suasananya damai banget apalagi itu hari masih pagi jam 6. Setelah dari Singaraja ke Gilimanuk, jalannya lurus-lurus saja. Disini berhenti sarapan didalam kampung dalam hutan. Jalur Bedugul – Singaraja – Lovina – Gilimanuk tak kurang saya melihat 5 atau 6 masjid besar, berarti komunitas muslim juga banyak disana. Kembali lewat jalur Banyuwangi, fiuhhh.. badan jadi kegoncang-goncang lagi. Ngantuk banget pas di Situbondo, tidur bentar. Masuk Probolinggo sekitar jam 3an.. jalur mulai terasa macet dengan banyaknya truk-truk besar yang merayap dan juga banyaknya becak/sepeda yang harus dihindari. Mulai dijalur ini saya lihat banyak mobil kecil yang melakukan manuver-manuver, secara psikologis mungkin sama yang saya rasakan. Badan mulai capek, bawaannya pengin menang sendiri aja. Bahkan di Kraksaan terjadi kecelakaan tepat di depan saya antara Truk – ELF – Jazz. Saya Cuma lihat sambil lewat saja, si Jazz depannya penyok berat, pengemudinya cewek cuman bisa duduk aja di dalam sementara si Truk dan ELF nya ribut di tengah jalan, fiuh.. romantika jalan raya..
  3. FC. FC untuk pulang ini jadi naik! Kemungkinan adalah karena alur di Bedugul yang menanjak, menyebabkan gas musti besar. Apalagi waktu disitu, tiba-tiba gasnya ‘mbandang’ gak isa kecil. Saya pake aja terus sampe akhirnya normal sendiri setelah 2 km. Berarti itu ada kotoran nyempil di karbu sehingga menahan pelampung. Malam hari sebelum berangkat saya isi full 125rebu, ternyata di Pasuruan sudah habis, terpaksa saya isi lagi 50rebu. Sampe rumah di Malang tentu masih tersisa sekitar 30rebuan. Bisa jadi juga karena jalur Singaraja lebih panjang (belum ngitung), dan bisa jadi juga karena setelah saya isi masih sempat saya pake keliling sebentar di Nusa Dua, duh lagi-lagi saya tidak mencatat distancemeternya..
  4. Performa. Pulang ini saya cuma speeding di jalur Banyuwangi saja, jalan di hutan Baluran sudah mulus dan lebar. Namun musti hati-hati banyak tikungan tajam, kemiringannya kurang dan minim rambu dan pengaman. Ada satu mobil di belakang yang ngejar trus sejak keluar kapal, tapi masih kalah lincah dalam manuver soalnya dia bongsor, lha itu mobil Grandis. Setelah keluar Banyuwangi saya jalan santai (sambil setel dangdut.. hahaha).

Sekian laporan perjalanan, alhamdulillah sampe di rumah kembali dengan tak kurang suatu apa. Info laen yang mungkin berguna :

  1. Tarif kapal penyebrangan untuk mobil sedan/sejenis = Rp. 94.000 tambah 2 ribu untuk retribusi parkir
  2. Di Gilimanuk, masuk dan keluar akan ditanya surat2 kendaraan, STNK dan SIM, sementara di Ketapang tidak
  3. Kawasan minim support = Pasir Putih-Paiton, hutan Baluran, hutan Bali Barat, Gilimanuk-Jembrana, hutan Bedugul
  4. Kawasan tanpa sinyal = hutan Bali Barat (saya pake XL dan Telkomsel), ntah untuk Indosat
  5. Hati-hati bila memakai mobil ceper, khususnya ketika keluar masuk kapal, karena landasannya sangat tajam, rawan nggasrok. Saya pernah, karena kurang hati-hati waktu keluar kapal, bemper belakang mobil Sirion saya jadi kena gasrok yang sebelah kiri, jadinya sedikit memble karena penahannya patah.
  6. Tidak perlu kuatir POM bensin, selalu ada sepanjang jalan, bahkan di jalur hutan Bali Barat pun POM ada setiap 5-10km.
  7. Di Probolinggo, Bayeman, ada pom bensin yang memajang koleksi mobil dan motor tua, ada 2 Chevrolet dan belasan moge tua. Dipajang begitu saja di ruang pamer. Sayang gak kepotret. Itu adalah koleksi dari bos Andri, pemilik Perusahaan Otobis AKAS Asri… pantesan
  8. Daerah Probolinggo adalah kawasan pengrajin mebel antik. Buat yang butuh lemari, meja, kursi, panggung, roda dokar, perahu, gebyok antik dll, disinilah tempatnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website