Kali ini saya ingin sharing beberapa kejadian kurang mengenakkan yang pernah saya alami, tujuannya supaya yang membaca ini mengambil pelajaran dan berhati-hati agar terhindar dari hal yang sama.

Pengalaman ditipu dalam usaha. Sekitar tahun 2005 atau 2006 lupa tepatnya ada seorang teman kecil sebut saja namanya D. Tidak saya sebut nama dan identitas karena tidak penting. Ketahui saja modus dan kronologisnya. Beberapa mutual friend saya mungkin tahu yang bersangkutan. Mengajak saya bisnis penebangan kayu. Yaitu membeli pohon siap tebang (lupa nama kayunya) sekian ratus pohon dan kemudian dipotong2 untuk kemudian dijual.

Saya kenal D ini dulu waktu di SD dan rumahnya satu kota dengan saya di Singosari. Setelah SD tidak pernah ketemu baru ketemu lagi setelah sekian puluh tahun layaknya teman lama. Sekilas saya lihat tidak ada pekerjaan yang jelas tapi pintar sekali bercerita tentang bisnis.

Karena hal tersebut masih baru bagi saya, iseng aja saya ingin tahu kebenarannya. Saya diajak ke lokasi hutan kayu tersebut di daerah Lawang naik terus ke timur, hampir tembus Nongkojajar. Setelah perjalanan naik motor melewati jalan-jalan gunung yang sulit, sampailah kami disuatu desa. Disana saya dikenalkan dengan seseorang yang bernama Pak S yang disebut petani pemilik pohon2 tersbut. Singkat kata kami berkeliling keluar masuk hutan dia menunjukkan pohon2 yang sudah siap tebang. Untuk lebih meyakinkan dia menunjukkan bukti pajak semacam PBB dari lahan yg ditunjukkannya, meskipun sangat sulit bagi saya memahami ini surat PBB untuk lahan yang mana. Saya juga diajak berkeliling dan bertemu dengan orang-orang teman2 D yang intinya meyakinkan bahwa bisnis ini sangat menguntungkan.

Beberapa hari setelah itu saya masih belum memutuskan untuk join. Si D berulangkali bertanya apakah sy minat untuk join. Seingat saya butuh dana sekitar 300-400jutaan. Sudah saya bilang bahwa saya bukan pemodal dilevel itu, tapi tetap saja si D mengajak untuk join berapapun yang sy punya. Anehnya si Pak S juga sempat ikut2an nelpon saya untuk segera ikut join.

Setelah sekitar 2 mingguan, singkat kata saya terbujuk. Terakhir si D ke rumah seraya bercerita panjang lebar bahwa dia barusan dapat investor dari seorang keluarganya sebesar 500juta seraya menunjukkan sebuah kuitansi tertulis 500juta tersebut. Dan dia tetap menawarkan apakah masih ingin join.

Antara feeling percaya akan teman dan ingin memiliki usaha, akhirnya saya berikan uang 10juta dengan perjanjian bagihasil yang tertulis disaksikan oleh ortu saya yang sudah kenal dengan ortunya.

Plas. Sejak pagi menerima uang itu si D menghilang. Saya telp gak nyambung sms gak di balas. Saya datang ke rumahnya gak pernah ada, cuma ketemu ibu bapaknya dan adiknya yang juga tidak memberi info yang jelas.

Beberapa minggu dan bulan tidak ada kabar apapun. Pernah saya kasih sedikit pressure dengan mendatangi rumahnya bersama ‘seseorang’ semacam debtcollector, si D tidak ada dirumah. Hingga si ortunya D ibu dan bapaknya ke rumah saya untuk menanggulangi kelakukan si D ini. Ortunya menandatangi surat perjanjian untuk bersedia membayar tanggungan yg ada. Ibunya masih berargumen bahwa si D juga menjadi korban dari pak S yang sekarang juga lagi dicari orang.

Namun dengan alasan tidak ada uang ya mau gimana lagi, sampai tanggal perjanjian lewat pun tidak ada kejelasan.. Hingga sekarang.

Sempat saya menemukan Fb dari si D dan saya tanya baik-baik, anehnya dia masih bersikukuh bahwa itu adalah bagihasil bla bla bla, tidak ada iktikad baik sedikitpun.

Ya sudahlah, pelajaran ini biar saya simpan untuk lebih berhati-hati dalam berbisnis.

Intinya, perjanjian bagi hasil adalah kedok untuk menarik uang dari orang lain. Korban yang empuk adalah teman-teman yang sudah kenal yang memakai 50% legalitas dan 50% kepercayaan. Pak S dan orang2 lain yang dikenalkan kemungkinan besar adalah satu team dengan D yang mempunyai tugas meyakinkan calon korban.

Setelah itu sebenarnya ada beberapa teman yang menginformasikan kepada saya bahwa dia juga hampir / sudah berbisnis dengan si D ini dengan reputasi yang tidak memuaskan tapi saya gak begitu jelas kronologisnya. Mungkin saja banyak modus yang digunakannya, yang jelas apapun itu si D sudah berpredikat menyandang kartu merah. Out of business.

Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran. Thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website

Unable to load the Are You a Human PlayThru™. Please contact the site owner to report the problem.