bbmReview saya ini cuma sekedar feedback buat company Blackberry Limited (dulu RIM). RIM dulu sangat berjaya dengan menciptakan teknologi baru sebuah gadget yang di bundling dg software chatting BBM dan push-mailnya. BBM mendadak jadi trend baru yang digandrungi khususnya di Indonesia.

Gadget yang mahal, setting yang lebih ruwet, biaya bulanan khusus, battery yang boros dan katanya gampang error ternyata tidak terlalu jadi faktor penghalang bagi pemakainya, demi untuk nilai eksklusifitas sebuah gaya hidup. Kabarnya BB paling laku memang di Indonesia karena cocok sekali dengan trend baru saat itu yaitu N3 (Ngobrol Ngalor Ngidul). Teknologi push mail nya sendiri jarang sekali terpakai. BBM membuat banyak orang mendadak autis. RIM sukses. Bahkan jaman itu BB tidak pernah mengeluarkan biaya iklan di TV. Para operator dengan sendirinya membuat iklan untuk BB untuk menjual paket-paket koneksinya.

Hingga kemudian persaingan makin berat buat BB. Banyak gadget baru bermunculan dengan menawarkan fitur-fitur yang sama. Sebagai pendatang baru tentunya mereka sudah mempelajarinya, mereka menawarkan fitur yang sama tapi lebih baik, lebih murah, lebih fleksibel. Demi untuk merenggut kue pasar.

Dan perlahan namun pasti RIM memang semakin kehilangan pasarnya. Banyak orang kemudian seolah ‘tersadar’ bahwa jika hanya untuk chatting saja kenapa musti sesulit itu? Banyak applikasi baru yang memberikan koneksi lebih murah, gadgetnya gak perlu mahal dan bisa tersambung ke komunitas yang lebih luas.

BB sempat kelabakan, mereka mem-PHK hampir 4000 karyawannya karena penjualan BB terus merosot. Eksklusifitas yang tidak fungsional semakin tidak laku. Pasar lebih memilih fungsional faktor. Gadget seri2 terbaru yang diluncurkan seperti Z10 (yang sempat dibagi-bagikan gratis kepada para developer dg harapan mereka menciptakan applikasi pendukung) pun tidak begitu membantu.

BB mulai menurunkan harga gadgetnya, berusaha memperbaiki OS-nya, mulai pasang iklan di TV, dan mengganti direkturnya, lalu BB memutuskan untuk membuka eksklusifitas BBM mereka agar bisa tersambung kepada komunitas lain yang memakai gadget non BB seperti iPhone dan Android. Dengan harapan semoga BBM masih bisa berkumpul dengan aplikasi lain seperti WA, wechat, line dsb yang sejak awal berorientasi pada fleksibilitas.

Faktor teknis sudah berhasil dilewati. BBM bisa tersambung ke perangkat lain. Namun tak disangka faktor ‘kebiasaan’ ternyata masih menjadi ‘pengganggu’ keinginan BB ini. Yaitu banyaknya pengguna BB yang masih menggunakan karakter asli BB, yang notabene hanya bisa terbaca oleh sesama pengguna BB.

Di awal peluncuran aplikasi BBM banyak sekali diunduh oleh pengguna iphone dan android. Perusahaan BB pun senang karena ada harapan BBM akan menjadi aplikasi banyak dipakai lagi. Tapi sampai sejauh ini pengguna gadget lain banyak yang kemudian menguninstall BBM salah satunya adalah karena iritasi dengan susahnya membaca pesan dari teman-temannya pengguna BB yang masih mengirim pesan dengan memakai karakter-karakter aneh asli gadget BB.

Sebagian pengguna BB mungkin tidak menyadari bahwa ke-keukeuh-an penggunaan karakter-karakter tersebut semakin mempersempit pasar untuk BB. Saya sendiri meng-uninstall BBM karena :

  1.  User experience BBM tidak mengesankan. Icon terlalu kecil, pp tidak bisa view sebelum jd friend, navigasi membingungkan dll. add pin bb susah ngapalnya. Ue Wa/KT jauh lebih nyaman
  2. Banyak pemakai BBM yang masih menggunakan karakter-karakter aneh yang tidak bisa terbaca di android. Bukannya BB membuka BBM supaya komunitasnya lebih banyak? Tapi ternyata karakter aneh-aneh ini bener membuat iritasi spesies lain
  3. Karena mungkin saya tidak bgitu aktif di jalur dagang, Semua masih terwakili dg sms or email yang tdk perlu chatting scr intens.

Entahlah gimana nasib BB kemudian, kita tunggu saja. Innovation or die.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website