cbrFaktanya dalam adu balap jalanan jarak jauh yang sebenarnya, faktor joki adalah yang paling menentukan, bukan lagi spek motor.

Sedikit cerita waktu riding dari Malang ke Denpasar, 400km. Saya berangkat dari rumah asli di Malang Minggu jam 12 siang WIB teng, menuju rumah perantauan di Denpasar pulau dewata. Kondisi badan alhamdulilah merasa fit meskipun baru tadi malamnya saya datang. Entahlah bayangan rindu ibu dan istri dan anak berseliweran di depan mata sehingga memberikan energi seperti ini. 🙂

Padahal malamnya saya juga tidak bisa istirahat nyenyak karena jagain ortu yg sakit, tapi alhamdulilah sebungkus antangin dan pil pegel linu membuat badan merasa segar di pagi hari.

Sempat ada sebuah KLX yang rupanya sedang test speed di jalur Situbondo berusaha menempel tapi spek cbr250 dan jalan yang lengang dengan mudah meninggalkan beliau. Singkat cerita setelah makan siang di Paiton saya mulai merasa ngantuk di Banyuwangi. Saya istirahat salat ashar jamak zuhur di 10km sebelum pelabuhan. Habis itu badan terasa segar kembali karena terbasuh air. Cibi saya pacu lagi hingga pelabuhan dengan harapan bisa merebah nanti di kapal, eh lha kok ndlalah kapal rame banget sama rombongan anak sekolah. Apa daya tempat duduk full saya tepaksa duduk bersandar di pagar sambil melihat laut sapa tahu ada ikan duyung lewat.

rehatPenyeberangannya kali ini lambat, sejam lebih.. ternyata karena antrian kapal yang cukup banyak, biasa musim liburan. Ombak cukup keras, beberapa kali saya tengok si cibi apakah masih terparkir rapi atau terlempar karena goncangan ombak, cukup was was juga karena hanya berdiri diatas standar samping. Hebatnya dia masih ‘stand on the right side’ meskipun goncangan kapal begitu keras.. 🙂

Adu balap dimulai di km 1km setelah gilimanuk. Saya yang merasa sedikit pusing sempat mampir sebentar di sebuah apotik untuk membeli Bodrex sakit kepala. Ceritanya dijalan ketemu dengan penunggang Ninja250Fi berknalpot R9 yang ber-wearpack lengkap. Dari helm, sarung tangan, jaket, sepatu semua standar balap. Iseng saya coba menempel, suaranya memang keren tapi sesuai judul diatas, dalam kondisi jalanan yang sebenarnya faktor joki menjadi penentu. Si joki sepertinya hati-hati sekali dalam overlap dan tikungan, sehingga saya dengan mudah melewatinya dan di km 30km beliau sudah tidak lagi terdengar di belakang. Jika saya tunggu mungkin saja kita masih bersama tapi masalahnya setelah km 30 itu sesosok Vixion150 old melesat di depan.

Di trek lurus si cibi bisa melewatinya tapi saya akui kehebatan mesin vixion, meski Cuma 150cc tapi cibi250 musti gaspol untuk bisa overlap. Setelah 100km saya putuskan untuk berada di belakangnya, si vixi full gaspol untuk bisa menghilang tapi saya tetap menempel itung-itung menjadikannya pembuka jalan. Tapi dengan kondisi jalan berkelok dan malam hari, saya musti full konsentrasi mainkan gas, rem, gear, dan cornering untuk tetap memperoleh traksi.

Gilanya di km ke sekian, sesosok metic ikutan nimbrung. Dan dia leading pula! Dengan wear pack yang gak safety sama sekali dia lahap sekali melibas semua tikungan. Saya kurang jelas metic apa sepertinya berbokong gambot seperti mio soul. Tapi beliau jelas seorang local racer, artinya hapal betul kondisi ‘sirkuit’ di daerah situ ditambah gaya nekatnya, membuat lap postionnya di nomer satu haha.

Saya tidak panas dengan kondisi tersebut karena tahu gaya nekat seperti ini membahayakan banyak orang, biarlah dia beradu dengan si vixi saya ngekor aja. Tapi lagi-lagi, kondisi jalan meliuk-liuk dan jarak yang panjang, absolutely tidak memerlukan top speed. Asal berani cornering dan cerdas menyalip deretan truk, you go a head.

Sakit kepala hilang entah kemana, begitu juga si metic. Tinggal si vixi, saya dan ada cibi250 lain di belakang yang saya toettoet sejak dari Jawa. Rupanya dia riding di arah yang sama. Si vixi begitu bernafsu untuk menghilang dari pandangan, saya musti berkali kali buka gas di top gear untuk bisa menempel. Old vixion ini berknalpot standar sama kayak cibi saya, jadi memang power vixi juga handal untuk urusan speed, seenggaknya untuk meladeni cibi250cc yang jelas 100cc diatasnya. Keren.

Di tabanan si vixi rider minggir ke SPBU, kudanya kehausan, saya akhirnya melenggang sendiri sampe rumah.

Overall, saya puas dengan performa cibi250 ini, tidak ada kendala mesin berarti selama 800km nonstop. Cuma saya rasakan ada sedikit masalah rem depan yang rasanya kurang smooth di perjalanan baliknya semacam perlu kuras olinya.

Konsumsi BBM sengaja saya isi preimium + oktanbooster merek v-oktan (review menyusul), karena saya tahu kompresinya cukup aman, cuma 10,7 , sama kayak Vario, masih dibawah metic PCX yang 11.0 dan jauh dibawah Ninja yang 11,6. Pastinya kurang akurat karena tidak saya ukur pake metode full to full tank. Tapi dengan indikator fuel bar sama, saya habiskan 110 ribu untuk BBM. Berarti sekitar 24 liter untuk 790km (based on odo), berarti 1/32km lah. Lebih boros jika saya isi pertamax yang bisa dapet 1/35km an.

Thanks for reading, sekian riding report kali ini.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website