cbr250 2011Saya pake ni motor hampir setahun. 250cc th 2011, dulu saya beli dari orang bule Jimbaran. Kondisi waktu itu masih 8xxx kmnya, jadi termasuk rendah pemakaian.

CBR250cc adalah produk global dari Honda. Kalo sudah global artinya dipasarkan ke seluruh dunia dengan spek yang sama. Artinya Honda cukup pede bahwa produk yang satu ini bisa diterima oleh pasar yang luas. Bisa pede tentunya karena yakin bahwa produknya bagus.

Powernya cukup untuk harian. Artinya tidak terlalu besar karena akan mubazir. Menurut saya untuk motor harian, seyogyanya 250cc adalah maksimal. Diatas itu kayaknya cuma buat fashion. Karena mau dipake apa power gede di tengah kemacetan kota?. Kecuali jika Anda pake untuk keperluan touring jauh mungkin Anda butuh power lebih. Meskipun jujur sebenarnya 250cc pun masih kegedean buat perkotaan. Kalo bisa 50cc cukuplah, biar jalanan gak terlalu berbahaya.

Tapi memang saya beli motor ini untuk tujuan touring, khususnya jika mudik ke Malang kangen emak. Makanya pertama saya modifikasi jok belakang menjadi sedikit panjang supaya boncenger bisa nyaman rapet duduknya. Maklum ukuran badan tidak segede bule, jadi ukuran jok standar menyisakan ruang yang bisa bikin capet untuk jarak jauh.

Awalnya terpasang knalpot freeflow Yoshimura USA (mufler). Suaranya gahar. Efeknya memang lebih cepet dapat top speed. Naik ke 145kpj lebih cepat (dibanding knalpot standar), tapi gak sampe 2 minggu sudah saya ganti knalpot standar yang senyap dan gak sakit di telinga. Say no to knalpot racing. Apalagi motor metic yang pake, power gak jelas cuma suaranya berisik! Say goodbye to Yoshimura, terjual seharga 1 juta, lumayan. 🙂 Konon barunya sekitar 2.5juta.

Pake knalpot standar lebih cocok buat touring. Alunan mp3 dari headset bisa terdengar maknyuss sepanjang jalan. Hembusan angin menerpa badan adalah relaksasi. Pemandangan kiri dan kanan adalah refreshing.. eh kok jadi puisi.

Mesin injeksi 250cc DOHC 28horse power makan pertamax 1:36km. Terserah Anda bilang boros or irit. Untuk power segitu saya sih bilang irit.

Posisi riding sebenarnya lebih ke sporty, setang jepit dan agak nunduk, tapi ternyata gak terlalu nungging. Buat saya ini boleh dibilang sport touring, karena faktanya dalam touring kita perlu juga speeding sehingga butuh posisi sedikit nunduk. Solusinya jika touring saya taruh tas diatas tangki untuk menahan limpahan gaya dr belakang ketika ngerem diposisi nunduk. Alhasil sangat berguna sekali mengurangi capek.

Handling CBR ini oke banget. Setir tenang dan anteng buat dilepas atau cornering, berapapun speednya.

Minusnya, menurut saya mesin tidak sehalus ekspektasi saya. GEtaran ditangki dan stang masih terasa. Saya bilang begini karena sebelumnya saya punya Pulsar 200cc. Dalam hal getaran mesin sepertinya saya lebih suka pulsar. Tapi jelas kalah power.

Rem cakram depan belakang cukup mumpuni dan empuk. Kualitas kampas rem aslinya memang sesuai harganya.

CBR ini terkenal sparepartnya susah, terbukti ketika saya cari packing knalpotnya seluruh AHASS denpasar gak ada yang punya. Harus inden. Gak masalah sih. Memang motor premium biasanya inden sparepartnya karna jumlah penggunanya sedikit.

Jadi, jika Anda mau motor 250cc yang irit, handling mantap, topspeed 150kpj, Honda CBR250 masukkan dalam wishlist Anda. Kabarnya barunya sekarang sekitar 50jtan.

2 thoughts on “Review CBR250

  1. Pingback: Ruksis780

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website