ipadBukannya sy mau pamer beli gak dipake kok sawangannya. Tapi ini murni user experience. Sejak otak atik ipad (Ipad air wifi only), menemui beberapa kesulitan dan akhirnya sementara masuk laci dulu.

Ipad ni sementara nganggur karena :
– Saya terkesima dengan kebeningan warna2nya, lalu saya ingin coba puter film di Ipad ternyata memindahkan file tidak semudah yang saya kira.
– Saya foto-foto menggunakan kamera ipad dan ingin memindahkannya ke hape, ternyata juga tidak semudah yang saya kira.

Mungkin kapan2 saya jelaskan detail teknis apa saja yang sudah saya lakukan untuk sekedar memindahkan file ini. Padahal saya kan tidak gaptek2 amat, tapi pada level ini percobaan yang saya pikir fitur standar dari sebuah handheld ternyata tidak sesuai expektasi saya. Sementara dengan gadget yang saya pegang sekarang (handphone Android) kebutuhan migrasi file kesana kemari serasa demikian mudah. Malah seringkali saya fungsikan sebagai ganti flashdisk yang ketinggalan, cuma untuk sekedar storage file sementara. Jadi jika flashdisk ketinggalan pun hape saya yang saya pasangkan 8GB sdcard begitu gampang beralih fungsi jadi storage secara offline dengan menggunakan kabel data yg tergeletak dimana-mana.

Beberapa teman bilang, menyarankan pake ini itu dan software ini dan itu (thanks bro). Saya yakin pada akhirnya saya akan bisa mengkonekkan si Ipad dengan benar jika saya lebih sabar dan teliti, tapi untuk saat ini tidak perlu menghabiskan waktu untuk itu, karena memang belum perlu. Karena saya awalnya berpikir Ipad terkenal easy and friendly jadi harusnya saya tidak perlu disarankan pake software aneh2 untuk sekedar kebutuhan sederhana ini.

Jadi si Ipad ini sementara cuma berfungsi game saja. Itupun ternyata tidak tercapai, karena sayang harganya mahal (6 juta) takut jatuh atau kena air atau ketimpa karena ukurannya besar. Anak saya yang umur 5 tahun juga rupanya merasa berat megang barang segini besar, lagipula memang saya batasi untuk pegang gadget yang belum waktunya. Mendingan maen sepedaan di lapangan lebih sehat buat anak kecil.

Buat ngetik, saya yakin Anda setuju sebagus-bagusnya touchscreen tidak akan senyaman di keyboard ketuk untuk pekerjaan yang lama. Di keyboard ketuk, jari Anda bisa diam istirahat diatas keypad dengan memakai teknik ketik 10 jari, sementara di atas touchscreen jari Anda harus senantiasa terangkat supaya tidak memencet tombol. Apalagi dengan area sebatas Ipad, untuk ketikan 10 pages saya yakin akan 3x lebih cepat lelah dari pada dengan keyboard ketuk yang panjang dan gampang di geser2.

Jadi intinya buat saya Ipad ini masih belum memberikan fungsi teknis yang saya perlukan. Walaupun itu fungsi dasar.

Ya mungkin ada yang bilang, itulah Apple. Okay, itulah apple (*sambil coba memaklumi, ngangkat pundak sambil meringis ala pak ‪#‎jokowi‬). Yang terbukti bisa membuat pasarnya sendiri. Mahal, tidak bisa dibilang mudah, buktinya kemarin saya borong 15 buah ipad, pesenan dari seorang klien membeli dengan alasan pingin menunjukkan ke pada customernya bahwa mereka menggunakan Ipad. It’s expensive and we can buy, we are at that level. Memang itu. Karena secara teknis sebenarnya bisa saja menggunakan tablet biasa tapi akhirnya diputuskan membeli Ipad semata-semata karena pertimbangan brand image.

Murni saya review ini dari sudut teknis bukan karena saya one of Android lovers atau Apple haters. Bukankah mereka butuh feedback user experience kan? ‪#‎ipadair‬

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website