1508504_10204045280825186_889158825931580052_nSekarang ni banyak sekali warung dan resto bertema Mom’s Kitchen, Mom’s Recipe, Dapur Ibu, Dapur Bunda, Dapur Mama, Mama’s, dsb dsb. Ialah warung makan yang menyediakan masakan-masakan ala rumahan. Diberi nama ada embel-embel ibu supaya seolah-olah yang masak adalah ibunya.

Why?

Ya, ternyata bahwa memang masakan yang enak itu tidak mesti yang berteknik tinggi, berbumbu canggih, atau berkemasan rapi. Tidak mesti. Karena banyaknya resto bertemakan Ibu itu sudah mempunyai konsumen yang menganggap bahwa yang enak itu yang dimasak oleh ibunya.

Saya tidak tahu pasti apa saja yang ada di dalam menu warung-warung itu, tapi jika itu saya sendiri, saya cuma ingin nasi anget punel + kecap + telur ceplok yang digoreng dengan tepian yang tidak gosong. Setengah mateng juga gapapa. That’s it.

Jadi jika saya dihitung dalam kelompok usia 30 – 50 konsumen dapur-dapuran ibu itu, maka mereka musti meriset kira-kira 40 tahun yang lalu apa saja yang sering dimasak oleh ibu-ibu di tahun itu. Jelas di tahun itu tidak ada ibu yang masak burger atau pizza.

Anak kecil tidak akan mengerti apa itu telor ceplok atau McD, terserah ibunya yang mengenalkannya. Asal disajikannya dengan kasih sayang, maka itulah yang akan tertanam dibenaknya sepanjang hayat sebagai makanan yang enak.

Memang dia akan tumbuh dan mengenali berbagai jenis makanan enak lainnya, tapi variabelnya bisa relatif, tidak ada ukuran pasti. Jika boleh memakai ukuran dosis obat ala dokter, maka kalo bisa sehemat mungkin mengkonsumsi resep. Artinya jika dengan masakan sederhana saja, tidak mewah, tidak memerlukan bahan makanan yang aneh-aneh saja sudah bisa merasa cukup enak, maka komunitas orang-orang yang semacam ini lebih sedikit membenani kompleksnya urusan dunia. Ibaratnya mereka easy going, gak ribet. Asalkan ya itu tadi, tergantung makanan apa yang dulu ibunya berikan.

Jika dulunya ibunya sudah biasa kasih makanan yang ruwet-ruwet, maka kemungkinan ‘dosis’nya nanti mereka juga akan mencari hal yang lebih ruwet lagi resepnya. Ruwet itu relatif ya, tergantung ketersediaanya di daerah masing-masing. Misalnya jika anak California minta singkong rebus itu ruwet namanya. Sebaliknya jika anak di Kali Brantas (daerah saya di Malang) minta Smooked Salmon with Bulgogi Sauce, itu lebih ribet.

Dengan terbiasa makan dengan apa yang ada disekitarnya, mereka lebih survive. Survival technic, saya pikir itu mother’s wisdom yang ingin beliau berikan.

Jadi Ibu-ibu, apa yang Anda berikan pada si Upik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website

Unable to load the Are You a Human PlayThru™. Please contact the site owner to report the problem.