Membaca judul diatas Anda mungkin berpikir tentang mobil atau motor, Anda enggak salah. Dan supaya lebih tidak salah , gas yang dimaksud adalah Throttle in English. Throttle and Brake. Karena kalo ada orang disini teriak ‘Gas! Gas!’ harus ditanya dulu mau beli gas elpiji atau nyuruh injek gas biar nambah kecepatan? Sementara dalam vocab English jelas dibedakan, gas berarti benda berwujud gas/angin, sementara fitur gas di mobil atau motor menggunakan kata Throttle. Gas yang kita mau bahas disini adalah narik gas penambah kecepatan. Pull the throttle.

Lanjut, fitur gas dan rem yang ada di kendaraan sebenarnya adalah gambaran konkrit dari fitur yang ada di kehidupan. Dimana-mana akan kita temui gas dan rem. Di perusahaan, di organisasi, di kantor, di sekolah, di negara, di pesantren, di grup, di komunitas, di rumah dan bahkan di dalam diri kita sendiri.

Bagi yang pernah nyupir mobil atau motor pasti merasakan pentingya setelan gas dan rem yang enak.

Apalagi jika Anda seorang penikmat otomotif, rasanya pasti gatel jika ada setelan yang kurang sedikit saja. Gas kurang kontan atau rem kurang pakem, atau sebaliknya, otomania akan rela berkali-kali meluangkan waktu dan tenaga untuk melakukan Bongkar, Setel, Testing – repeat. Semua itu demi sebuah tujuan lancarnya plus enjoynya perjalanan hingga sampe tujuan yang dimaksud.

Di masyarakat, akan selalu ada para penarik gas, versus para penginjak rem. Misalkan kata-kata “Kita harus coba cara ini, kita perlu pelajari hal ini dst,” akan direm dengan “Gak perlu lah bro, kamu gak akan bisa nak, kamu terlalu complicated, dah kita gini aja nggih, aku ni emang gini aja orangnya..”

Yang mana yang menang sangat tergantung pada siapa yang nyupir, bisa tergantung personal bisa juga tergantung budaya yang mayoritas sedang dianut oleh komunitas itu.

Seperti halnya analogi akal dan agama, sebagian kelompok sedang tarik gas pol mengedepankan akal hingga lupa ngerem memakai agama. Negara-negara yang maju secara teknologi begitu lajunya di posisi depan tapi kebat keliwat kata orang Jawa hingga banyak kerusakan moral yang terjadi karena rem agamanya gak pakem atau bahkan ngeblong.

Sementara ada pula kelompok yang lebih suka injak rem dan males ngegas. Slow is the best. Yang terjadi memang jalan kalem, alon, ada yang bilang jumud, mabni ala pancet. Tak ada guncangan, tak ada ngepotan. Tak peduli negara, company, sekolah, atau individu, karakter anti gas atau anti rem ini akan kita lihat.

Yang ideal ? ya tentunya yang sesuai lintasan. Masuk jalan tol tapi laju di 20kpj Anda lebih beresiko ditabrak, sementara di dalam kampung melaju 100kpj yu mas bi krezi. Di jalan aspal, kemampuan rem musti prima karena kondisi ramai, sementara di jalur offroad, setelan power gas musti lebih prioritas karena butuh torsi dan akselerasi.

Apakah Anda tukang ngegas atau tukang ngerem? No matter, yang penting adalah selalu belajar karena manusia diciptakan Alloh dengan kemampuan adaptasi yang tinggi. Terbukti spesies ini bisa melintasi ribuan kilometer tahun seleksi alam dan bahkan meciptakan peradaban.

“Robbana ma kholaqta hadza bathila“

Salam gas pol rem pol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website