Begini rasanya dikurangi sedikit nikmat dari Alloh.

Sekitar 4 atau 5 hari saya didera rasa sakit di telinga kanan. Awalnya mungkin karena saya bersihkan telinga agak terlalu dalam, padahal saya udah merasa sangat hati-hati memakai cutton bud, tapi beberapa hari setelah pembersihan itu telinga terasa mulai sakit.

Awalnya cuma nyeri ringan, semakin lama semakin terasa seperti ditusuk-tusuk dan terasa tersumbat kotoran. Di hari Rabu rasa nyerinya semakin hebat, cenut-cenutnya dari telinga sampai rahang. Saya tahu ini adalah gejala infeksi dan radang. Bayangan saya ada luka bekas pembersihan yang meradang parah dan mungkin bernanah. Saya ingat cenut-cenutnya seperti ketika jempol kaki luka bernanah. Kadang muncul kadang berhenti.

Ketika nyerinya muncul, dunia serasa kacau. Istri yang cantik terlihat jelek, lukisan indah terlihat buruk, musik yang merdu terdengar fals, jalan raya terlihat seperti medan peperangan, begitu. Tapi begitu nyerinya hilang, dunia mendadak menjadi damai. Dari sela-sela asap peperangan muncullah bendera putih berkibar dalam slow motion, dentuman peluru terhenti, jauh disana terlihat hamparan hijau padang rumput dengan pohon2 yang rindang, burung dara tiba-tiba saja berterbangan entah dari mana datangnya.

Tapi sela beberapa menit atau jam kemudian, tiba-tiba negara api menyerang lagi. Desingan peluru bersahutan kesana kemari ditimpali luncuran roket yang lalu lalang tanpa ampun. Kepulan asap hitam yang pekat seketika menyelimuti cayaha bak malam hari. Tanah yang kupijak segera tergenang cairan entah air atau darah peperangan, mengikat segala daya ketika ingin melangkah. Gemuruh, gelap, sedih, sakit, kalut, chaos. *Lebay mode on

Di hari-hari itu saya yakin bahwa ini masih bisa saya hendel tanpa perlu dokter, saya yakin di apotik tersedia obat yang ready to use untuk gejala seperti ini. Mungkin karena saya terlalu kreatif berimajinasi malah sebelum ke apotik saya teteskan minyak oles Bokashi ke telinga.. πŸ™ Saya bayangkan ni minyak ajaib yang bisa meredakan luka radang. Beberapa menit kemudian rasanya bereaksi… makin cenut-cenut.. ooalah it doesnt work! Tapi saya sabar menunggu reaksi sampe pagi hari berikutnya meskipun dengan konsekwensi tidur yang amat terganggu karena perang nyeri di telinga yang sangat tidak sopan tiba-tiba muncul di saat orang tidur.

forumenHari berikutnya saya ke apotik sebelah rumah dan bertanya tentang obat untuk kondisi saya. Si bapak Apotik dengan pedenya dan tertawa penuh arti, memberikan obat “FORUMEN”. Entahlah apa arti tawa itu, tapi setelah saya teteskan malah membuat telinga rasanya semakin tersumbat dan nyerinya tidak berkurang. Hmmm, mungkin dia ada dendam kepada saya di kehidupan sebelumnya sehingga dia memberi obat yang tidak sesuai itu. Memang setelah saya baca Forumen hanyalah pencair kotoran telinga dan malah kontra indikasi kepada peradangan.. saya sih udah baca tapi saking sumringahnya wajah si bapak apotik menyerahkannya sehingga saya tetap aja memakainya.

Di hari Sabtu saya keliling Bali mengantar rombongan bisnis keluarga dari India, sepasang suami istri dan anaknya yang wajahnya mirip Tapasha, mungkin mereka memang masih kerabatnya :). Setengah mati saya berusaha bekerja dalam kondisi keributan terjadi dalam kepala. Wuih, panas dingin jadinya. Sedikit terobati waktu makan siang bebek yang enak dengan pemandangan eksotis di Ubud. Pulang jam 7 kondisi badan udah serasa mau tepar. Bahkan untuk foto bersama dengan si Tapasha pun tak sempat.

Bebek Tepi Sawah Ubud Bali

Bebek Tepi Sawah Ubud Bali

Hari minggu bangun pagi rasanya badan masih meriang. Bukan meriang karena deman, tapi karena menahan sakit yang menusuk telinga. Minggu pagi saya sudah bertekad untuk pergi ke dokter THT tapi informasi saya terima tidak ada dokter yang bekerja di hari minggu, kecuali on call atau gawat darurat. Minggu sore rasanya agak mendingan, dan tidur sehari di hari libur malah membosankan. Saya ajak saja keluarga keliling kota siapa tau nemu dokter THT yang iseng-iseng buka mungkin mereka terilhami oleh kondisi pasien yang berpikiran seperti saya atau mungkin sedang kejar setoran πŸ™‚

Hingga di sebuah apotik terlihat tulisan praktek dokter THT dan saya berhenti meskipun hanya dengan 11,05% harapan. Beneran memang dokter hari minggu libur. Saya pamitan hendak keluar tapi entah ilham dari mana saya balik badan mencoba bertanya kepada apoteker disitu. Seorang ibu berkacamata yang berbibir merah dan terlihat serius dengan dunianya. Iseng saya kembali menceritakan keluhan saya dan dengan sigap dia membalik-balik lemari obatnya yang ajaib. Almarinya bisa berputar seperti pintu rahasia, mungkin sebenarnya dia adalah nenek tabib dari dunia lain. Dan kemudian dia memberikan sebuah kotak kecil dengan tulisan OTOPAIN. Saya bilang saya sebelumnya di beri FORUMEN.. dan dia tersenyum sinis mengatakan, anak muda.. forumen tidak untuk sakit radang, trust me.

otopainSetengah terkesiap dan terhipnotis tanpa perlawanan saya membayar obat itu dan berlalu. Saking penasarannya gpl langsung saya teteskan OTOPAIN meski masih di parkiran. Lalu apa yang terjadi kemudian.. serasa hujan penuh rahmat turun dari langit menyapu dan mendamaikan segala macam peperangan yang terjadi. Sesampai di rumah saya baca lagi brosurnya ternyata memang OTOPAIN ini khusus untuk radang dan mengandung anastesi lokal. Ouh, pantesan nyerinya langsung hilang… Damai.. peace…

Malam itu saya tidur dengan tenang seperti bayi. Sedikit masih ada nyeri-nyeri yang muncul tapi tidak berarti lagi, mungkin mereka adalah sisa-sisa pasukan yang tidak ingin dunia menjadi damai. Seperti pasukan liar tanpa komando beraksi sana sini yang menjadikan kekacauan sebagai hobby. Tinggal tetesin aja lagi dan mereka segera mati gaya.

Alhamdulillah, hari ini saya bangun dengan suasanya indah. Lantunan adzan subuh terdengar damai dan pagi ini saya berangkat ke kantor dengan bersemangat. Kembali ke laptop dan menulis cerita ini .. πŸ™‚
Makasih sudah sempat membaca ya… hehe.. πŸ™‚

One thought on “Sakit Telinga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website