Selama saya menjadi manusia sampai sekian puluh tahun ini, bener terasa bahwa yang paling sulit adalah mengendalikan keinginan. Keinginan yang bersumber dari hawa nafsu pribadi. Setiap detik sejatinya yang kita lakukan adalah perjuangan memilih keinginan apa yang ingin kita dahulukan.

Keinginan adalah suatu komponen super halus yang diberikan sang pencipta kepada manusia sebagai alat penguji sejauh mana dia bisa tunduk kepadaNya.

Makanya setiap agama selalu memberi sederet panjang juklak dan juknis untuk manusia tak lain tak bukan adalah untuk mengatur dan menundukkan keinginan manusia. Lebih-lebih agama Islam. Dari namanya saja sudah berarti tunduk. Islam adalah bahasa Arab yang berarti menerima, tunduk, pasrah. Menjadi muslim artinya Anda menyadari bahwa keinginan manusia Anda berhadapan dengan keinginan Tuhan Allah yang menciptakan Anda. Jika Anda kemudian menerima bahwa keinginan Tuhan yang Anda lakukan berarti Anda muslim.

Sederet juklak dan juknis dari Nya sudah lengkap dituliskan dan diajarkan oleh para nabi dan ulama. Dari mulai tata cara melakukan ritual yang disebut ilmu syariat, hingga tata cara berpikir dan menyangka dan merasa yang disebut ilmu hakikat.

Pada akhirnya semua kembali kepada Anda, didalam hati Anda masing-masing terdapat keinginan dan kejujuran yang hanya semata-mata Anda sendiri yang memilih mau yang mana.

Kejadian apapun yang menimpa dalam kehidupan Anda pasti keinginan manusiawi Anda bertabrakan dengan realita dan aturan-Nya. Disitulah ujiannya berawal.

Berkeinginan tidak melulu melakukan sesuatu tapi bisa juga keinginan tidak melakukan sesuatu yang ternyata aturan agama menginginkan Anda melakukan sesuatu. Nilainya sama. Misalnya dalam Islam, Anda ingin melakukan mencuri, tapi aturan agama melarang, dilain waktu Anda ingin diam saja, tapi aturan Agama menyuruh Anda berangkat ke medan jihad atau tanah suci. Keduanya adalah ujian penerimaan.

Guru-guru dan orang tua yang bijaksana punya laku dan ajaran bahwa kemuliaan tidak didapat dari ‘meraih’ tapi dari ‘menahan’. Yaitu menahan keinginan dari godaan yang sebelumnya sudah dipilah secara benar. Bukan secara salah. Karena ada golongan orang yang tertipu menganggap hal sudah benar padahal sebenarnya salah. Persis seperti orang tersesat jalan, dengan yakinnya dia mengambil jalan yang salah. Tersesat.

Arif tanah Jawa punya paten kalimat ‘Ngeningno cipto, madep mantep mandeng pucuk e grono, marang kang murbo waseso, mekek babakan Howo Songo’. Itu adalah laku yang diyakini harus dilakukan demi memperoleh kemuliaan di sisi-Nya. Artinya berusaha sekuat tenaga menahan keinginan dari 9 lobang tubuh manusia. Saya yakin untuk daerah atau negara lain juga punya laku yang sama dengan bahasanya masing-masing.

Iwan Fals setelah 25 tahun berkarya menciptakan salah satu lagu yang tersisip lirik ‘Keinginan adalah sumber penderitaan’. Bagi mereka para OI yang sudah mengalami asam garamnya kehidupan seperti beliau pasti tahu maknanya yang dalam. Penjabarannya bisa panjang kali tebal setebal beratus-ratus kitab para ulama dalam dunia santri atau beratus-ratus karangan para filsuf dalam dunia penggemar filosofi.

Tidak peduli agama apapun, pasti Anda merasakan hal yang sama. Pilih melakukan keinginan Anda sendiri atau menyerah dan menerima dengan keinginan agama Anda. Bahkan keinginan untuk tidak mencari siapa sesungguhnya Tuhan Sang Pencipta juga suatu hal yang justu diperintah olehNya untuk terus berpikir dan memperhatikan siapa Tuhan sesungguhnya yang patut disembah.

Saya pribadi sebagai seorang Muslim percaya bahwa setiap detik selalu dinilai oleh Tuhan keinginan siapa yang didahulukan. Bukannya saya mengatakan bahwa saya sudah melakukannya semua, tapi saya ingin berusaha. Dan mengajak yang lain untuk juga berusaha.

Karena orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah. Orang yang baik adalah yang pernah salah dan benar, hanya lebih sering berbuat benar. Begitupun dengan orang yang jahat, bukannya tidak pernah berbuat benar/baik.

Tuhan mengajarkan bahwa Dia menilai usaha, bukan hasilnya. Dia menilai kurvanya bukan endingnya. Dalam proses berusaha mungkin terjadi beberapa kesalahan tapi jika trend kurvanya meningkat maka beberapa garis menurun bisa saja diabaikan dan secara overall dinilai plus alias positive. Maka ketika kita hidup dengan sesama pun lihatlah kurvanya. Jangan gampang menilai ujungnya.

Ups, sory melebar. Intinya hari ini sejalan dengan bertambahnya usia, saya diingatkan untuk berusaha lebih keras lagi deal atau nodeal dengan keinginan pribadi dan menerima dealNya.

One thought on “Keinginan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website