Earth 2020.

Planet bumi sedang berada pada situasi yang kurang nyaman di level 8 of 10. Ialah karena bumi sedang dilanda epidemi penyakit baru yang mempengaruhi perilaku. Media memberinya nama wabah GSD, singkatan dari Generalization Syndrome Disease
Tidak ada yang tahu pasti kapan dan dimana wabah GSD pertama kali tercipta, tapi GSD semakin merebak dan menjangkiti semua orang, semua kalangan dari semua profesi di daerah dan kota. Tak peduli suku apa, agama apa, partai apa, bergelar apa, warna kulit apa, wabah GSD begitu ampuh menembus imunitas mereka.

Wabah GSD adalah sindrom yang membuat seseorang tiba-tiba memfokus kornea matanya ketika melihat hal yang ganjil atau aneh pada diri sesuatu atau seseorang yang lain. Karena sudah fokus, maka seketika semua indra lain seolah tertutup dari sisa area yang normal. Seketika itu pula sensor di otak pun mengerucut pada kesimpulan bahwa objek tersebut adalah objek yang aneh dan ganjil.

Gejala paparan GSD awal ditandai dengan mulai berkerutnya dahi dalam waktu lama, panas disekitar organ hati, dan sulit melupakan peristiwa-peristiwa buruk yang telah berlalu. Lalu akan semakin parah hingga level GSD lanjut.

Seseorang yang berjalan di keramaian, lantaran batuk-batuk saja maka sontak mendadak kerumunan akan buyar menjauhinya sembari memicingkan mata dan tutup hidung karena dia adalah si Batuk.

Jika ada salah satu anggota suku yang mendengarkan ceramah kepala suku lain, dia akan langsung dicap pengkhianat. Go! You’re a traitor!

Jika ada baju hijau yang saku bajunya warna kuning, maka orang akan menganggap itu baju kuning.

Semua orang menginginkan bentuk sempurna. As perfect as edited photo version.

Menurut beberapa jurnal medical report wabah GSD di level ini adalah semacam gabungan dari virus paranoid yang memparasit di inang perfeksionis dan sudah terpapar bakteri overload hoax info.

Hingga pada suatu hari diberitakan telah ditemukan suatu daerah dekat kepulauan Maui ditengah lautan pasific dimana penduduknya bebas internet dan medsos. Mereka guyub rukun fleksible egaliter dan memberi ruang untuk kesalahan dan keganjilan yang manusiawi. Maka dikirimlah sejumlah ilmuwan kesana…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website