Saya bisa bayangkan betapa pinternya Software Engineer tingkat Google atau Facebook, lha wong saya yang kebetulan sedang bikin program ERP kecil-kecilan saja tahu sendiri mumetznya.

Otak ini musti menganalisa bagaimana jalannya data antar titik-titik yang berkaitan. Gimana query-nya gimana output-nya. Lalu bagaimana struktur database-nya, hubungan antar field-nya, trigger-nya, logic-nya. Setelah terkonsep, lalu gimana syntax-nya, loop-nya, array-nya dll. Setelah itu gimana tampilannya, user interface-nya, navigasinya dll. Setelah itu gimana interfacing dengan alat atau api lainnya.

Jangan lupa juga pikirkan securitynya supaya tidak terserang oleh teroris. Setelah aman, jangan lupa pula pilih metode yang efisien supaya tercapai kondisi ringan cepat nggak boros resources which is bernilai sangat tinggi karena that is the razor edge of knowledge.

Dan seterusnya dan seterusnya berulang seperti itu dengan cepat dan simultan. What’s next version? Seorang Engineer naif mungkin menganggap saat itu dia sudah menciptakan versi tersempurna dari sebuah aplikasi tapi nyatana development software tidak akan berhenti seperti tidak berhentinya bayi yang terus lahir. Karena faktanya belum ada seorang futuristik yang bisa mengkonsep skema aplikasi yang bisa bertahan lebih dari -katakanlah- 10 tahun.

Bill Gates yg jenius dan punya unlimited resources memang mengalami Microsoft Maju Makmur sekitar 10 tahunan ketika skema Internet belum ada, setelah itu masa Google mulai ambil alih dengan konsep lebih baru dengan Platform Cloud-nya. Semua orang menyangka Google raksasa tanpa tanding, eh tau tau muncul anak masih kuliahan ngetik coding di kamar kos bikin konsep Social Media terus diupload. Jebret! Google SERP bukan lagi putri tercantik yang direbutkan. Andai petinju dia baru saja kena uppercut telak dan mulai agak tersaingi kegayaannya.

Baiklah saya persingkat saja tulisan ini dengan sebuah pengakuan, ‘Rabbana ma khalaqta hadza batila’.. Betapa maha pinternya Sang Maha Super Programmer yang menciptakan database kehidupan ini. Jika setiap orang sudah berisi jutaan / milyaran variabel dan data bahkan unik -mungkin setara 100GB file sql mungkin lebih. Maka bagaimana membuat 100GB x 6 milyar lainnya bisa terkoneksi dengan baik?

If ($i = love ‘$her’) and ($she != loves $me) {$i will die;} else if ($he loves me){$i omg will die cyiiiinnn;} yang mungkin itu salah satu syntax yang tertulis di Loh Mahfuz sana ya.. diantara ribuan trilyun baris syntax lainnya.

Tak dipungkiri gak mungkin kehidupan ini tidak ada programmernya. Semuanya terkoneksi dengan kuat dan efisian. Gak ada glitch, nge-bug, nge-lag, nge-hang, nge-jammed, data loss, overload, security breach, apalagi down. Semuanya running dan ter-record optimal, presisi dan compatible lintas dimensi. Joss gandos kotos kotos! Hubungan sebab akibat, pembagian level access, tipe-tipe data, semuanya persis seperti yang ada dalam definisi sebuah aplikasi. Programmer yang baca ini pasti paham, hanya saja ini jauh melebihi level manusia.

Aplikasi buatan-Nya sudah running dalam versi yang bisa mencakup ribuan tahun belum perlu upgrade. Sejauh ini Anda akan menemukan yang saya maksudkan di buku help & tutorialnya yang bernama The Holy Qoran.

Wallahua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website

Unable to load the Are You a Human PlayThru™. Please contact the site owner to report the problem.